mutiara cinta

mutira cinta
Jika kita mencintai seseorang, kita akan senantiasa mendo’akannya walaupun dia tidak berada disisi kita.

Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta …

Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba. Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa sanggup. Jangan sesekali mengatakan kamu tidak mencintainya lagi, jika kamu masih tidak dapat melupakannya.

Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan, walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan Kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangunkan kembali kepercayaan.

Jangan simpan kata-kata cinta pada orang yang tersayang sehingga dia meninggal dunia lantaran akhirnya kamu terpaksa catatkan kata-kata cinta itu pada pusaranya. Sebaliknya ucapkan kata-kata cinta yang tersimpan dibenakmu itu sekarang selagi ada hayatnya.

Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dan bercinta dengan orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterimakasih atas karunia tersebut.

Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh,
penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat dan kemarahan menjadi rahmat.

Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan adalah
mencintai seseorang dan kamu tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cintamu kepadanya.

Seandainya kamu ingin mencintai atau memiliki hati seorang gadis, ibaratkanlah seperti menyunting sekuntum mawar merah. Kadangkala kamu mencium harum mawar tersebut, tetapi kadangkala kamu terasa bisa duri mawar itu menusuk jari.

Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu, hanya untuk menemukan bahwa pada akhirnya menjadi tidak berarti dan kamu harus membiarkannya pergi.

Kadangkala kamu tidak menghargai orang yang mencintai kamu sepenuh hati, sehingga kamu kehilangannya.
Pada saat itu, tiada guna penyesalan karena perginya tanpa berkata lagi.

Cintailah seseorang itu atas dasar siapa dia sekarang dan bukan siapa dia sebelumnya.
Kisah silam tidak perlu diungkit lagi, kiranya kamu benar-benar mencintainya setulus hati.

Hati-hati dengan cinta, karena cinta juga dapat membuat orang sehat menjadi sakit, orang gemuk menjadi kurus, orang normal menjadi gila, orang kaya menjadi miskin, raja menjadi budak, jika cintanya itu disambut oleh para pecinta PALSU.

Kemungkinan apa yang kamu sayangi atau cintai tersimpan keburukan didalamnya dan kemungkinan
apa yang kamu benci tersimpan kebaikan didalamnya.

Cinta kepada harta artinya bakhil, cinta kepada perempuan artinya alam, cinta kepada diri artinya bijaksana,
cinta kepada mati artinya hidup dan cinta kepada Tuhan artinya Takwa.

Lemparkan seorang yang bahagia dalam bercinta kedalam laut, pasti ia akan membawa seekor ikan.
Lemparkan pula seorang yang gagal dalam bercinta ke dalam gudang roti, pasti ia akan mati kelaparan.

Seandainya kamu dapat berbicara dalam semua bahasa manusia dan alam, tetapi tidak mempunyai
perasaan cinta dan kasih, dirimu tak ubah seperti gong yang bergaung atau sekedar canang yang gemericing.

Cinta adalah keabadian … dan kenangan adalah hal terindah yang pernah dimiliki.

Siapapun pandai menghayati cinta, tapi tak seorangpun pandai menilai cinta karena cinta bukanlah suatu
objek yang bisa dilihat oleh kasat mata, sebaliknya cinta hanya dapat dirasakan melalui hati dan perasaan.

Cinta mampu melunakkan besi, menghancurkan batu, membangkitkan yang mati dan
meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dahsyatnya cinta.

Cinta sebenarnya adalah membiarkan orang yang kamu cintai menjadi dirinya sendiri dan tidak merubahnya menjadi
gambaran yang kamu inginkan. Jika tidak, kamu hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kamu temukan didalam dirinya.

Kamu tidak akan pernah tahu bila kamu akan jatuh cinta. Namun apabila sampai saatnya itu,
raihlah dengan kedua tanganmu dan jangan biarkan dia pergi dengan sejuta rasa tanda tanya dihatinya.

Cinta bukanlah kata murah dan lumrah dituturkan dari mulut kemulut tetapi cinta adalah
anugerah Tuhan yang indah dan suci jika manusia dapat menilai kesuciannya.

Bercinta memang mudah, untuk dicintai juga memang mudah. Tapi untuk dicintai oleh orang yang kita cintai
itulah yang sukar diperoleh.

Jika saja kehadiran cinta sekedar untuk mengecewakan, lebih baik cinta itu tak pernah hadir.

kata-kata penyejuk hati

Penulis : teuku wisnu

dia menyelamatkan hidupku.
Dia mengajarkanku segalanya.
Tentang hidup, harapan…
dan perjalanan panjang kedepan.
Aku akan selalu merindukannya.
Tapi cinta kami seperti angin.
Aku tak bisa melihatnya…
tapi aku bisa merasakannya.

Cintamu bagaikan rembulan
Cintamu bagaikan rembulan
yang hadir bila malam menjelang
kau hilang bila siang mendatang
begitulah sikapmu oh saying
kau lontarkan ditepian
kubagaikan hayut dalam lautan
yg lemas di dalam percintaan
di pukul di gelombang keresahan
…………………………………………………………………………………………………………………

Kimita touku kitemo {meskipun kamu jauh }
Kiminoi shuaga sinagara tala {aku selalu mengingatimu selalu }

Izinkan selamanya namamu di hati
Telah aku terima takdir dari yg esa
Tertusuk sembilu perih hati terluka
Terkubur impian kita bina bersama
Terlerai sudah ikatan cinta…
baru aku sadari siapa diri ini
sebalik suratan cahaya cinta yg suci
sedalam renungan terlihat dalam diri hakikat cinta
yg sejati kuturutkan cahaya di hadapan berliku
keyakinan di dada mengiringi langkahku
jalinan bahagia iringan doa restu
di dalam jiwa cinta yg satu
jalanan yg berduri tetap aku gagahi
biar gunung yg tinggi pasti akan kudaki
detik2 kenangan segar buat pedoman
sepanjang jalan taman impian
selamat sejahtera kepada dirimu
semogah berbahagia tampa aku
izinkan selamanya namamu di hati
biarkan selamanya kubegini

Kepada Rindu yg mengalir

Kepada rindu yg mengalir
Bawalah aku pada hulu keinsyafan
Agar aku paham
Betapa nikmat aku berenang di situ
Bila kesucian memusari jiwaku
biarkan aku karam
pada dasar kecintaan
dan mengabdi di situ
………………………………………………………………………………………………………………

BILA
Bila rasa yg kamu siram di hati
Adalah air penyejuk
Biarlah ia mengenag dalam kejernihan
Hingga terbilas dengan kesucian

Bila rasa yg tabur di hati
Adalah benih keikhlasan
Biarlah ia bersemi dengan kuncup kecintaan
Hingga berbunga dengan aroma keluhuran
Dan bila rasa yg kau aliri di hati
Adalah sikap keangkuhan
Biarlah ia hanyut bersama keriyaan
Hingga musnah di pintu pertoubatan
………………………………………………………………………………………………………………………

TETAPLAH
Masikah engkau
Bakal minggat dariku
Membiarkan raga
Terkapar sendiri disini
Berselimut noda ?

Mestikah aku
mengiba kepadamu
lantaran engkau penyuluh
bagiku penerang dalam gulita ?

tetaplah di sini dinda
tetaplah direlung hatiku
sebab kepergianmu
adalah awalan kebinasaanku
dalam kekufuran !
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

perpisahan
Sebelum kau meninggalkan diriku
Biarkanlah aku mencium keningmu
Lalu palingkanlah wajahmu

Dinda, kulepaskan
kau mengarungi samudra
perpisahan mengantarkan sukma
antara rela dan tak rela
sebab setelah kepergianmu
jerit nurani pasti mengukir pilu

dinda, kulepas kau
mengarungi samudra
setelah kau bosan bermain ria dengan ombak
bahkan gelomban
kuharap kau kembali di dermaga hatiku
sebelum kesunyian dating menjerat
………………………………………………………………………………………………………………………

Gundah di akhir musim
Tatapan matamu
Aku menangkap segumpal gundah
Gejolak jiwamu
Terukirdi situ
Karena cinta yg kamu tanam
di ujung musim
belum juga kau semai
walau demikian
aku tak ingin kau larut dalam gundah
menghitung hari tampa almanak
menangisi nasib di akhir musim

aku ingin kau tersenyum
membuang gundah yg memahat nurani
karena, meski musim berlau
waktu takkan kemana
………………………………………………………………………………………………………………JPEG Image

Cinta dalam pandangan psikologi Islam

“Ketika kau terpikat cinta, Islamikanlah dia. Ketika sayapnya merengkuhmu, serahkanlah dia pada Al-Qur’an. Jadikanlah virus yang tersembunyi di balik sayapnya dan vaksin di hatimu.

Seumpama kita sesak napas terdekap olehnya, Al-Qur’an akan melapangkan kita, hingga kita menjadi sabar dan tegar. Dan kemudian, Allah akan menyinari pelayaran cinta kita dengan cahaya-Nya, hingga kita siap menjadi penyelam suci yang memancarkan kekudusan Tuhan.”

Kita tidak pernah mengerti, bagaimana cinta bisa hadir dalam diri. Cinta serasa datang begitu saja, tanpa aba-aba, tanpa rencana matang, lantas dengan polos cinta mengetuk pintu hati kita memberi kabar yang membuat kita kelu tak tentu arah.

Namun, makna cinta yang tersimpul dari kajian psikologi selama ini, telah menghadapkan kita pada dua jalan: Jalan kedewasaan ataupun gairah, serasa tidak ada Islam di dalamnya. Karena itu Freud pernah berujar bahwa libido adalah roda yang menggerakkan jati diri.

Selain itu, dengan triangular of love-nya, Sternberg pun mengalami benturan. Rasa-rasanya Triangular of Love ala J. Sternberg belum mampu menjelaskan konsep cinta antara anak dan orangtuanya, adik dan ayahnya. Sebab pada esensinya Konsep cinta Sternberg mengacu kepada cinta kepada pasangan dan komitmen mempertahankannya, belum lah menyertakan makna keislaman yang mendalam.

Cinta Dalam Islam

Sekarang problemnya adakah payung ilmu yang bisa menahan arti cinta secara menyeluruh. Apakah ada penjelasan cinta komperhensif dan bisa dibaca dari segala arah bagi kita sebagai umat muslim? Jawabannya? Mari kita lihat bagaimana Islam sebagai agama kita menjelaskan tentang tauhidi makna cinta yang amat mendalam.

Kata cinta dalam Al Qur’an disebut Hubb (mahabbah) danWudda (mawaddah), keduanya memiliki arti yang sama yaitu menyukai, senang, menyayangi.

Sebagaimana dalam QS Ali Imron : 14 “Dijadikan indah dalam pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (syurga).” Dalam ayat ini Hubb adalah suatu naluri yang dimiliki setiap manusia tanpa kecuali baik manusia beriman maupun manusia durjana.

Adapun Wudda dalam QS Maryam : 96 “ Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal sholeh, kelak Allah yang maha pemurah akan menanamkan dalam hati mereka kasih sayang.” Jadi Wudda (kasih sayang) diberikan Allah sebagai hadiah atas keimanan, amal sholeh manusia.

Dipertegas lagi dalam QS Ar Rum: 21 ketika Allah berfirman, “ Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah ia menciptakan untukmu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung merasa tentram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”

Dalam ayat inipun Allah menggambarkan ‘cenderung dan tentram’ yang dapat diraih dengan pernikahan oleh masing-masing pasangan akan diberi hadiah (ja’ala) kasih sayang dan rahmat.

Dalam fil gharibil Qur’an dijelaskan bahwa hubb sebuah cinta yang meluap-luap, bergejolak. Sedangkan Wudda adalah cinta yang berupa angan-angan dan tidak akan terraih oleh manusia kecuali Allah menghendakinya, hanya Allah yang akan memberi cinta Nya kepada hamba yang dkehendakiNya.

Allah yang akan mempersatukan hati mereka. Walaupun kamu belanjakan seluruh kekayaan yang ada di bumi, niscaya kamu tidak akan mendapatkan kebahagiaan cinta jika Allah tidak menghendakiNya. Oleh karena itu terraihnya cinta—wudda pada satu pasangan itu karena kualitas keimanan ruhani pasangan tersebut. Semakin ia mendekatkan diri kepada sang Maha Pemilik Cinta maka akan semakin besarlah wudda yang Allah berikan pada pasangan tersebut.

Cinta inilah yang tidak akan luntur sampai di hari akhir nanti sekalipun maut memisahkannya, cinta atas nama Allah, mencintai sesuatu atau seseorang demi dan untuk Allah.

Problematika Cinta

Kita mungkin pernah sama-sama merasakan, ada suatu fase dalam hidup kita saat dimana pikiran, hati, kaki, tangan, dan jiwa kita ditentukan oleh cinta, bagaimana segala kebahagiaan itu ditentukan dari kesuksesan cinta dalam balutan standar manusia. Pada konten ini kemudian cinta berubah menjadi sayembara yang kerap melontarkan kata-kata penjara jiwa seperti “Hidupku akan mati jika diputus oleh kekasih” atau “Kita tidak bisa hidup tanpa kekasih”. Sedangkan, remaja kerap berkata, “Jika mempunyai kekasih, belajar akan lebih termotivasi”. Malah bisa jadi ada sumpah serapah yang terlontar kepada laki-laki atau perempuan yang telah mengkhianati cinta? Dan sebelum itu ketika saya kuliah, ada kawan berujar serius .”Akhi, pacaran adalah keniscayaan untuk merasakan cinta. Lo harus nyoba, kalau memang mau paham cinta”.

Saat itu saya tertegun, meretas senyum kepadanya, dan melambungkan mata ke atas untuk mengeri arti cinta sejati. Tanpa disadari kita sudah meletakkan sesuatu yang pasti kepada manusia yang lemah, individu yang tak tahu masa depan itu sendiri

Ketika kita mulai menjajakan cinta dan pada akhirnya kita gantungkan harapan cinta itu kepada manusia, pasti yang ada kekecewaan, karena kemampuan manusia terbatas. Ia tidak bisa memastikan, ia tidak bisa menjadi penentu pasti, manusia tetaplah manusia dengan segala kelemahannya. Adagium, sepandai-padaninya tupai melompat akhirnya jatuh juga, tidak bias makhluk, dan bukan sekedar pepatah dalam rangka mengingatkan ikhtiar manusia, karena pada kenyatannya, Allah telah menggariskan kemampuan manusia jauh sebelum adagium itu hadir. Sehubungan ini Allah SWT berfirman:

“Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.”(QS. An-Nisa, 28).

“Allah telah menciptakan kalian lemah, kemudian menjadi kuat, lalu setelah kuat kalian menjadi lemah dan tua.” (QS. Rum, 54).

Masih banyak ayat lainnya yang menjelaskan hal serupa, mirip, dan memiliki kesamaan. Bahkan jauh melompat dari kedua ayat di atas, pada momentum ayat yang lainnya, Allah terang-terangan mengidentifikasikan manusia dalam keadaan yang begitu rentan terhadap hati. Dalam surah ke 70 ayat 19, Allah berfirman: “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir”,

Tidak berakhir disitu, kemudian Allah menjelaskan lagi perihal makhluk hidup ini yang akan membuat kita terangsang untuk lekas mengintropeksi diri, muhasabah, dan kembali kepada khittah kehidupan cinta, yakni firman yang berbunyi selang dua ayat berikutnya, “dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir”.

Problematika cinta manusia, sudah jauh di lukiskan dengan amat baik oleh Ibnu Qayyim. Dikaji mendalam oleh Imam ghazali, dan mundur ke belakang di tulis dengan amat menyentuh oleh Ibnu Taimiyyah. Tentu kapasitas penulis teramat jauh dengan kemampuan ulama besar itu yang kerap dikaji pada tiap malam di sebuah mesjid indah di Depok, dengan kitab Fenomenal Tazkiyatunnufus.

Ada banyak varian dari timbulnya problematika cinta, salah satunya bagaimana kita salah mengelola qalbu dalam cinta.Qolbu adalah wilayah yang urgen dalam kehidupan, hingga Rasulullah pernah mengeluarkan hadisnya yang menyentuh,

“Ketahuilah sesungguh dalam jasad ada segumpal darah. Jika ia baik seluruh jasad akan baik pula. Jika ia rusak maka seluruh jasad akan rusak. Ketahuilah bahwa itu adalah qalbu.”

Banyaknya manusia yang terpuruk dalam cinta dan dikuasai hawa nafsu tak lepas karena kita mengingkari kesucianqolbu, hati, dan nilai-nilai fitrah dalam diri. Wilayah sensitif ini menjadi lupa untuk kita perhatikan karena sudah demikiannya kita jauh dari Allah, dan merasa diri sombong dengan meletakkan ayat-ayat ilahi sebagai prioritas kedua dalam mengarungi cinta. Naudzubillah.

Kekuatan Hati

Saudaraku, percayalah, hati yang cemas, kikir, gelisah, kotor, dan merasa lelah menjalani hidup, dikarenakan kita sudah meletakkan standar-standar duniawi sebagai syarat kebahagiaan hakiki. Kita rela menyiksa hidup dengan syarat-syarat wahn yang sebenarnta tak bisa kita lakukan. Kalau kita mau jujur saja, secara hakiki, kesemua itu malah jauh dari sumber kebahagiaan yang sebenarnya, yakni ketenangan batin bagaimana kita selalu dekat dengan Allah.

Saudaraku, Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu pernah berkata bahwa “Tidak sempurna keselamatan qalbu seorang hamba melainkan setelah selamat dari lima perkara: syirik yg menentang tauhid bid’ah yang menyelisihi As-Sunnah, syahwat yg menyelisihi perintah kelalaian yg menyelisihi dzikir dan hawa nafsu yang menyelisihi ikhlas.” Hamba yg memiliki qalbun salim akan selalu mengutamakan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia yg mana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mempersiapkan tempat di surga.

Saudaraku, salah satu kunci kenyamanan hidup dimulai dari bagaimana kita mampu membangun suasana hati. Jika hati kita ikhlash dan bersih dengan penuh ketawadhuan, sesuatu yang kita pandang hina jadi sedemikian mulia, yang tadinya kita pandang kurang ternyata teramat cukup, sesuatu yang kita lihat kecil dan tak berdaya berubah jadi sangat besar dan penuh makna, dan apa yang kita lihat sedikit, dan ternyata terlampau banyak. Dan itu di mulai dari hati.

Sekarang apakah kita mau melepaskan segala ego, kesombongan, dan sebongkah egoisme besar dalam diri kita. Kini, apakah kita juga rela berhenti sejenak melepas atribut keduniawian kita untuk menghadap one by onedengan Allah dengan berkata jujur di depan SinggasanaNya. Jika kita berani, rasakanlah ada aliran kesejukan dan ketenangan yang sebelumnya tidak kita rasakan. Ia menetramkan. Ia pun mampu merubah paradigma kita tentang cinta, hidup, dunia, ujian, psikologis, dan sebagainya.

Jika tidak itu kembali kepada diri pribadi, apakah kita masih ingin bertahan lama pada topeng-topeng yang khusus diciptakan Allah untuk menguji keimanan kita? Demi Hidup yang digenggam olehNya, peracayalah itu kembali kepada kita.

“Maka apabila hari kiamat telah datang. Pada hari ketika manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya. Dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada tiap orang yang melihat. Adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia maka sesungguh nerakalah tempat tinggalnya. Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Rabb dan menahan diri dari keinginan hawa nafsu maka sesungguh surgalah tempat tinggalnya.” (An Naziat ayat 34-42). Allahua’lam.